Staf Khusus Menteri PU mentang-mentang saat diperiksa barang bawaannya di Bandara Soetta. (foto: gus)

0
2800

Dikutip dari Jakarta, reportasenews.com Suasana di X-Ray pintu keluar terminal 2D Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta Cengkareng Provinsi Banten, Kamis (31/8), sekitar pukul 18.30 WIB, sedikit gaduh setelah seorang penumpang bernama Suhendra Ratu Prawiranegara, menolak barang bawaannya diperiksa petugas bea cukai.

Kebetulan lepas maghrib itu suasana di dalam ruangan terminal kedatangan 2D itu tidak begitu ramai. Di X-Ray, ada tiga orang pegawai Bea Cukai Kantor Bandara Seokarno-Hatta yang dikomandani oleh Erwin Situmorang itu, bertugas.

Mereka antara lain, Fatoni (25), yang ditemani Syahrul (35) dan Chintya (35). “Maaf Pak, kopernya diperiksa dulu,” pinta Fatoni setelah koper milik Suhendra melewati X-Ray.

“Memangnya saya ini apa diperiksa! Kamu anggap apa saya diperiksa,” dengan nada tinggi Suhendra mengeluarkan tanda pengenalnya. “Saya ini staf khusus Menteri PU. Saya habis melaksanakan misi negara,” ujar Suhendra.

ID Card Staf Khusus Menteri PU. (foto: gus)
ID Card Staf Khusus Menteri PU. (foto: gus)
“Baik, pak. Saya juga dalam misi negara, menjalankan undang-undang untuk memeriksa penumpang dan barang bawaannya,” Fatoni menjawab tenang.

Mendengar jawaban itu, suara Suhendra makin meninggi. “Kamu enggak usah ngajarin saya ya, kamu baru jadi PNS, jadi enggak usah ngajarin saya. Saya mau ketemu atasan kamu dalam lima menit!” Suhendra setengah menghardik sambil beranjak ke ruangan bea cukai yang ada di sana. Tapi urung.

Suhendra lantas berbelok keluar diiringi seorang lelaki sambil berkata,”Suruh atasan kamu yang datang ke kantor saya.” ujarnya.

Kepada reportasenews.com, Jumat siang tadi, Syahrul mengakui kejadian itu. Dia kemudian cerita bahwa saat melewati X-Ray, petugas melihat ada dua tas branded yaitu tas LV dan Chanel di dalam koper tadi.

Itulah yang membikin petugas meminta supaya koper itu dibuka. “Kalau tas di dalam koper tadi baru, berarti pemiliknya musti membayar pajak bea masuk sebesar 40 persen dari harga tas itu,” terang Syahrul.

Syahrul tidak bisa memastikan Suhendra baru landing dari mana. Yang jelas dari luar negeri. Sebab malam itu ada tiga pesawat yang landing dari Singapura, Kuala Lumpur dan Amsterdam.

Hampir saban hari, kata Syahrul, ada saja penumpang dari luar negeri yang membawa barang baru. Tapi mereka tidak pernah keberatan tas atau kopernya diperiksa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.