Natuna – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna mencatat selama 4 bulan terakhir limbah medis mengalami peningkatan. Total sampah di Natuna mencapai 40 ton perharinya.
Meski jumlahnya lebih sedikit dari sampah biasa, namun akibatnya lebih berbahaya.
“Sebab sampah medis bukan saja mengotori lingkungan tapi juga bisa membawa virus atau bakteri,” tutur Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Natuna, Afriyudi saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Rabu, 19 April 2021.

Sampah medis, kata Afriyudi ,masih ditampung. Sementara yang ada pengelolaannya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Natuna.
“Penanganan sampah medis sarana dan prasarana kita sudah sesuai telah sesuai protokol tetap (protap) Kementerian Kesehatan. namun administrasi kita yang belum sesuai. Kedepannya kita Dinas akan menganggarkan pengelolaan limbah medis,” ucap dia.
Ia menerangkan, untuk di puskesmas dilakukan proses penguburan terhadap limbah medis. Dari Dinkes sudah ada kajiannya dimana harus satu pagar dengan puskesmas.

“Limbah medis dan industri berbeda. Medis lebih bisa di maksimalkan di daerah,” ujarnya.
Plh Bupati Natuna Hendra Kusuma menuturkan, bahwa sampah medis sangat berbahaya bukan hanya mengotori lingkungan, tetapi juga bisa menyebabkan virus.
“Apalagi saat ini sedang pandemi Corona, jadi DLH harus segera mengatasi masalah sampah medis,” terang Hendra.
Hendra meminta, perihal sampah medis, seperti masker dan yang lainnya agar di sosialisasikan ke masyarakat agar tidak dibuang sembarangan tempat.
“Masyarakat bisa dikubur ataupun dibuang ditempat sampah,” ucap Hendra.
Soal penanganan sampah medis, Plh Bupati Natuna nanti akan membahas dengan dinas terkait bagimana untuk proses administrasinya.
SARWANTO

Komentar