oleh

Cerita Penambang Pasir Rakyat Karimun

Karimun – Ketersediaan akan kebutuhan material pasir untuk bahan bangunan bagi kepentingan Pemerintah Daerah, perusahaan dan/atau masyarakat adalah hal penting untuk tercapainya penyelesaian bangunan fisik. Namun begitu berat tantangan bagi pelaku usaha khususnya penambang konvensional untuk menjalani usahanya karena tidak semua pihak dapat memahaminya.

Hal inilah yang membuat awak media ini tertarik untuk bersilaturrahmi ke tempat penambangan konvensional untuk wawancara dengan mereka, para sosok yang telah ikut mensukseskan pembangunan khususnya di Karimun, Kepulauan Riau.

Herman salah satu pengusaha penambang rakyat Karimun menjelaskan, bahwa usaha ini dilakukan untuk bertahan hidup, untuk biaya sekolah anak, dan membantu kelancaran pembangunan daerah, juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Karimun khususnya.

“Kami mengerti kalau usaha kami ini ada resiko, baik resiko kecelakaan kerja maupun resiko penertiban. Namun pernahkah dibayangkan bagaimana sehandainya material pasir tidak ada? Apa bisa dibangun dengan semen aja?,” jelasnya saat dikonfirmasi, Jumat, 30 September 2022.

Lalu, ia menceritakan, besarnya biaya operasional, perawatan dan perbaikan kerusakan alat hisap pasir, karena pasir darat padat tidak seperti pasir laut, sehingga beban dan kerusakan alat sangat tinggi (overload/over costing) dan hal ini sering terjadi. Macam mana tidak, mesin dong feng kerjanya berat, apa tak mesin cepat jahanam.

“Kalau biaya-biaya lain kadang ada, kadang tidak, kadang besar, kadang kecil. Maklum aja namanya berbagi rasa. Kalau bagi rata tak mungkinlah,” ujarnya.

Ia juga menerangkan, untuk bekerja yang lain dirinya menyatakan dirinya tidak bersekolah tinggi dan tidak mempunyai keterampilan yang lain.

“Mau tak mau, pahit atau manis, kerja inilah yang dapat kami tekuni,” Imbuhnya.

Ia berharap, semoga ada kebijakan sehingga dirinya dapat bekerja maksimal dan tidak merasa was-was untuk memenuhi kebutuhan akan material pasir guna mensukseskan pembangunan daerah dan untuk masyarakat. (Hariono)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *