oleh

Pulau Penyengat Kian Strategis, Dorong Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Daerah

Tanjungpinang – Pulau Penyengat terus menunjukkan perannya sebagai destinasi strategis berbasis sejarah, budaya, dan religi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau.

Sebagai miniatur kejayaan peradaban Melayu-Islam, Pulau Penyengat memiliki nilai historis tinggi, salah satunya sebagai pusat lahirnya tata bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia melalui karya tokoh besar Raja Ali Haji. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata halal unggulan.

Pengembangan sektor pariwisata tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 yang mengarahkan pembangunan pariwisata berbasis kualitas dan keberlanjutan melalui pendekatan pariwisata regeneratif. Konsep ini menekankan pentingnya pelibatan masyarakat serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Presiden RI Prabowo Subianto juga menginstruksikan implementasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) serta Gerakan Wisata Bersih (GWB) guna menjaga kebersihan dan kenyamanan destinasi wisata di seluruh daerah.

Dalam mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan Gubernur Ansar Ahmad terus melakukan revitalisasi kawasan Pulau Penyengat secara masif.

Berbagai pembangunan dilakukan, mulai dari penataan jalan, perbaikan drainase, pemasangan lampu penerangan, penataan objek wisata, hingga penyediaan fasilitas umum seperti toilet dan pengelolaan sampah.

Pengembangan pariwisata juga melibatkan masyarakat melalui penguatan UMKM, pengelolaan homestay, serta penyediaan atraksi wisata berbasis budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat.

“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan pariwisata regeneratif menjadi kunci utama dalam pengembangan ke depan.

“Konsep ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” jelasnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat mencapai sekitar 6.200 orang, baik wisatawan mancanegara maupun domestik, terutama dari Malaysia, Singapura, Eropa, dan berbagai daerah di Indonesia, khususnya saat libur nasional dan Hari Raya Idulfitri.

Menurut Hasan, peningkatan kunjungan ini menjadi peluang besar bagi masyarakat setempat.

“Ini kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta layanan wisata lainnya,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM dan pengelola homestay agar mampu memberikan layanan berkualitas kepada wisatawan.

Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai faktor penting dalam meningkatkan daya tarik wisata.

“Wisatawan akan kembali jika destinasi bersih, nyaman, dan ramah. Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga Pulau Penyengat,” tambah Hasan.

Ke depan, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan, termasuk rencana pembangunan monumen bahasa, peningkatan penerangan jalan, serta revitalisasi lanjutan Balai Adat sebagai destinasi wisata baru.
Hasan menyebut, pembangunan monumen bahasa dan museum akan menjadi ikon baru sekaligus penggerak ekonomi daerah.

“Monumen bahasa ini akan memperkuat identitas sejarah sekaligus memberikan efek berganda terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Dengan kekayaan sejarah, budaya, dan nilai religius yang dimiliki, Pulau Penyengat diharapkan menjadi jembatan lintas generasi dalam memperkenalkan kejayaan peradaban Melayu-Islam, sekaligus pusat edukasi budaya dan sejarah bagi generasi masa kini dan mendatang. (Ham)

Editor: Juliadi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *