AROMA malam batik bercampur dengan wangi serbuk kayu memenuhi ruangan sederhana di sudut Yogyakarta itu. Di atas meja-meja kerja, potongan kayu sengon telah berubah menjadi topeng dengan berbagai ekspresi.
Sebagian masih berupa sketsa tipis, sebagian lain telah dihiasi motif merak, garuda, dan ornamen abstrak yang berkelok anggun. Di sela kesunyian workshop Raja Kembar, suara canting yang menyentuh permukaan kayu terdengar lirih, seolah sedang menuliskan kisah pada setiap serat kayu.
Beberapa ibu duduk berjajar dengan penuh konsentrasi. Tangan mereka bergerak perlahan mengikuti pola yang telah digambar sebelumnya. Tidak ada mesin modern yang mempercepat pekerjaan. Di tempat ini, kesabaran adalah alat produksi utama.
“Prosesnya hampir sama seperti membatik di atas kain. Bedanya, medianya kayu,” tutur Daru Kartiko, pendiri Raja Kembar, saat ditemui tim Pengabdian Kepada Masyarakat LP2M UPN Veteran Yogyakarta di workshopnya, Jumat, 17 Juli 2026. Bagi Daru, setiap produk bukan sekadar kerajinan, melainkan karya seni yang memiliki karakter dan cerita.
Usaha yang berdiri sejak 2015 itu lahir dari keinginan menghadirkan suvenir yang estetis, eksklusif, sekaligus berbeda. Nama “Raja Kembar” pun menyimpan kisah keluarga. Dua anak pertama Daru yang lahir kembar dan sama-sama memiliki nama depan “Raja” menjadi inspirasi lahirnya identitas usaha tersebut. Sejak awal, ia ingin membangun usaha yang kelak dapat diteruskan oleh keluarganya.
Berbeda dengan banyak perajin yang mengandalkan etalase toko, Raja Kembar justru memilih memperluas pasar melalui dunia digital. WhatsApp Business, Instagram, dan berbagai platform daring menjadi jendela yang mempertemukan karya-karya batik kayu ini dengan pembeli dari berbagai daerah.
Pasar mereka tidak hanya Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, tetapi juga telah menjangkau Amerika Serikat melalui pesanan ekspor. Meski ekspor tidak datang setiap bulan, pesanan tersebut menjadi penanda bahwa batik kayu dari sebuah workshop sederhana mampu menembus pasar global.
Keunikan Raja Kembar terletak pada orisinalitas desain. Semua motif lahir dari tangan Daru sendiri. Setelah menjadi sketsa, para pembatik menerjemahkannya dengan canting, lilin, dan pewarna hingga membentuk karya yang tidak pernah benar-benar sama satu dengan lainnya. Setiap goresan adalah hasil kerja tangan manusia yang menyimpan jejak emosi, ketelitian, dan waktu.
Produk unggulannya adalah topeng kayu dalam berbagai ukuran, mulai dari mikro hingga besar. Sebagian dipasang pada bingkai sebagai hiasan dinding. Selain itu, tersedia pula kotak perhiasan, tempat tisu, tempat sabun, hingga lemari kecil bermotif batik yang telah menjadi pilihan sejumlah hotel di Bali. Bagi wisatawan, benda-benda itu bukan sekadar suvenir, melainkan sepotong kisah budaya yang bisa dibawa pulang.
Namun, mempertahankan kualitas berarti berdamai dengan keterbatasan. Seluruh proses dilakukan secara handmade sehingga produksi tidak dapat dipercepat. Terlebih lagi, hanya dua pengrajin yang memiliki keahlian khusus membuat topeng abstrak. Ketika pesanan datang dalam jumlah besar, waktu menjadi tantangan yang tak bisa ditawar. Daru memilih tetap menjaga mutu dibanding mengorbankan kualitas demi kuantitas.
Agung Prabowo, Ketua Tim PKM LP2M UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan, โโRaja Kembarโ merupakan pengrajin yang sangat berpotensi untuk dikembangkan ke level yang lebih tinggi. Kualitas produknya halus dan sangat teliti. Di sini kami bermaksud untuk membantu membangun
Saat senja mulai meredup, para perajin masih tekun menyelesaikan satu demi satu motif. Di tangan mereka, kayu yang semula tampak biasa perlahan berubah menjadi karya yang memancarkan kehangatan tradisi.
Raja Kembar membuktikan bahwa di tengah arus produksi massal, karya yang dikerjakan dengan hati masih memiliki tempat.
Harapan Daru sederhana, semakin banyak ruang promosi, kemudahan mengikuti pameran, serta akses menuju pasar yang lebih luas agar batik kayu Indonesia terus menemukan rumahnya di mata dunia.
Sebab, selama masih ada tangan-tangan yang sabar menorehkan malam di atas kayu, kisah batik kayu akan terus hidup, melampaui batas ruang, waktu, dan negara.
Penulis: Agung Prabowo

Komentar