oleh

Mengenal Keindahan Gunung Ranai Geosite Natuna

Natuna – Gunung Ranai merupakan satu dari sembilan, yang ditetapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna melalui Dinas Pariwisata setempat sebagai kawasan geosite di Natuna.

Sembilan situs Taman Bumi di Natuna terdiri dari tempat wisata Tanjung Datuk, Pantai Goa Bamak, Gunung Ranai, Taman Batu Alif, Tanjung Senubing, Pantai Batu Kasah, Pulau Akar, Pulau Setanau dan Pulau Senua.

Meskipun hanya memiliki ketinggian 1.035 mdpl (meter, diatas permukaan laut) atau sekitar 3.395 kaki dengan kategori gunung dataran rendah, Gunung Ranai ini tercatat sebagai gunung tertinggi yang ada di Kabupaten Natuna dengan status Gunung tidak berapi.

Objek gunung Ranai yang berada tepat di tengah pulau Bunguran Besar ini, selain sebagai identitas ibukota kabupaten Natuna sekaligus sarana wisata terbuka bagi kalangan pecinta alam, Gunung ini, juga dimanfaatkan masyarakat Pulau Bunguran, yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, untuk membaca kondisi cuaca sebelum melaut.

Mewarisi tradisi nenek moyang, nelayan tradisional menggunakan akurasi kordinat melaut dari puncak gunung sebagai kompas manual, sementara untuk mengetahui buruknya cuaca dilaut, pada bagian puncak gunung Ranai ini akan tertutup awan tebal yang menggumpal hitam, begitu juga sebaliknya, jika bagian gunung ranai ini terlihat bersih, menandakan rambu lampu hijau bagi nelayan untuk melaut, karena bisa dipastikan cuacanya teduh tanpa angin dan gelombang.

Batu Gunung Ranai. foto (Sar)

Prakiraan cuaca manual ini masih terus digunakan masyarakat nelayan di Pulau Bunguran Besar juga tergolong akurat dan efektif, meskipun diera serba canggih, banyak layanan aplikasi non berbayar, menawarkan sejumlah kemudahan fitur, mulai dari pasang surut air, kecepatan arus dan angin hingga waktu terbaik untuk memancing saat nelayan melaut, cukup dalam satu genggaman handpone berbasis android.

Bagian puncak Gunung Ranai, terdapat tiga tumpukan batu granit raksasa berusia ratusan juta tahun ini, layaknya mahkota raja, dengan nama dan ketinggian yang berbeda seperti, Puncak Serindit (968 meter), Puncak Erik Samali (999 meter) dan yang tertinggi Puncak Datuk Panglima Husin (1,035 meter).

Untuk bisa mencapai bagian puncak gunung Ranai, selain diperlukan stamina fisik yang cukup baik, keterampilan juga diperlukan bagi para pengunjung, mengingat kondisi track jalan setapak dan tebing yang terjal, dengan masa tempuh selama 240 menit, pendaki dihadapkan pemandangan alam yang eksotik dengan sejumlah rintangan melewati batang pohon raksasa yang melintang pukang, serta bebatuan licin selama perjalanan.

Menikmati geosite gunung Ranai, pengunjung bisa berjalan dari pos pertama melewati jalur pendakian, sebelum mencapai puncak, pada rute track ini juga terdapat lokasi air terjun mini yang bersumber langsung dari mata air Gunung Ranai, sebagai sumber kebutuhan air masyarakat Pulau Bunguran Besar, menurut tradisi masyarakat tempatan, air ini kerap dijadikan sebagai air cadangan atau bekal selama perjalanan sebelum menuju puncak dan kebun warga.

Hingga saat ini, kondisi Gunung Ranai masih cukup terjaga ekosistemnya, terlihat disepanjang perjalanan, pengunjung masih bisa menemukan batang pohon berukuran raksasa,  dengan diameter lebih dari dua meter, beberapa jenis pohon tersebut merupakan jenis kayu belian yang merupakan bahan baku jenis unggulan untuk membuat rumah panggung mulai dari tiang, dinding dan lantai rumah masyarakat melayu.

Para Pendaki Gunung Ranai. foto (Sar)

Pohon tersebut dibiarkan tumbuh dan tidak dimanfaatkan masyarakat, dengan tujuan untuk menjaga kelangsungan nuansa hutan seklaigus menjaga kondisi tanah dari bahaya erosi dan longsor.

Keberadaan pohon dan batu raksasa didalam perjalanan menuju puncak Gunung Ranai, menjadikan keasrian hutan, namun karena terlindung dari paparan sinar matahari, kondisi dasar tanah menjadi lembab dan basah, sehingga tak jarang pengunjung, dengan mudah menemukan puluhan jenis spesies fauna seperti, pacet sejenis lintah, kepiting kecil berwarna merah, ulat kaki seribu berukuran besar dan masih banyak lagi.

Pengunjung Gunung Ranai tidak memerlukan ijin khusus untuk melakukan pendakian, seperti pada umumnya lokasi wisata Gunung besar yang ada di daerah Pulau Jawa, Jambi, Papua, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi, karena Gunung Ranai dalam status aman dan tidak terdapat ancaman dari spesies hewan buas.

Keberadaan Gunung Ranai sebagai kawasan konversi taman hutan, kerap menjadi sandaran warga tempatan untuk memperoleh rupiah, hutan Gunung Ranai ini menjadi hunian berkembang biaknya ratusan jenis satwa, tak terkecuali lebah hutan, yang meskipun memiliki sengatan berbahaya bagi manusia, namun produksi sarang yang mengandung madu ini, memiliki nilai ekonomis, karena sarat manfaat kaya akan zat yang dibutuhkan tubuh manusia.

Bermodalkan pengalaman dan keahlian khusus, warga pemburu madu liar, hingga saat ini masih melakukan perburuan didalam hutan Gunung Ranai, baik secara perorangan maupun berkelompok, waktu terbaik mencari madu liar, adalah saat musim tanaman berbunga.

Dampak dari pertumbuhan dan pembangunan daerah, menyebabkan hasil perolehan madu liar menjadi menurun, karena sebelumnya, sarang lebah ini masih mudah dijangkau pemburu, didalam kebun masyarakat, namun seiring berkembangnya pembangunan rumah disana sini, lebah hutan memilih tempat aman dan bermigrasi kedalam hutan, termasuk hutan di Gunung Ranai.

Sebelumnya, pencari madu bisa memperoleh satu hingga lima sarang lebah berukuran besar dalam satu hari tanpa bermalam, saat lebah masih mudah ditemukan didalam lokasi kebun warga, namun saat ini, pemburu madu harus menghabiskan waktu untuk bermalam, menjangkau hutan untuk menemukan sarang lebah.

Selain jumlah populasi yang menurun, sarang lebah didalam hutan juga berada diatas ketinggian tertentu hingga belasan meter bergantung diranting pohon raksasa. Ini memerlukan keahlian dan keberanian khusus untuk memanjat pohon, terkadang banyak situasi dan keadaan yang mengancam resiko keselamatan bagi pemburu madu, saat mengeksekusi sarang lebah.

Ini juga menjadi faktor perdangangan madu asli menjadi mahal dan sulit diperoleh masyarakat konsumen, tak jarang ditemukan oknum pemburu madu nakal, yang sengaja mencampur madu asli dengan air, bahkan membuat madu tiruan dengan bahan dasar gula pasir dan sari buah dengan harga yang sama dengan madu asli. Beredarnya madu palsu atau tiruan ini dipasaran, membuat hilangnya kepercayaan masyarakat dan meragukan para pemburu madu yang sesungguhnya.

Disisi lain, Gunung Ranai juga dipercaya warga tempatan, menyimpan segudang kehidupan cerita mistis, dipuncak gunung Ranai tersebut, mulai dari hilangnya sebuah pesawat sekitar tahun 1961 yang melintas dipuncak gunung, hingga saat ini tidak ditemukan jejaknya, hingga pemesanan puluhan unit kendaraan mewah yang dialamatkan ke Gunung Ranai, setelah unit hendak diantar ternyata kordinatnya adalah hutan Gunung Ranai yang tidak dihuni seorangpun penduduk.

Air terjun Gunung Ranai. foto (Sar)

Beberapa cerita lainnya, tidak sedikit pengakuan pendaki yang bermalam di puncak gunung, melihat gemerlap lampu rumah penduduk  seperti kota berkembang saat malam hari, yang mana saat siang hari pemandangan tersebut hanyalah sebuah hutan dengan rimbunan pohon.

Bagi kepercayaan masyarakat tempatan, yang berkunjung ke puncak Gunung Ranai, umumnya akan meminta petuah atau nasihat dari salah seorang warga yang berada di kaki gunung, Haji Di sapaan akrabnya, dipercaya masyarakat sebagai juru kunci Gunung Ranai, tak jarang Haji Di menyarankan agar warga yang hendak mendaki ke puncak Gunung Ranai untuk tidak membawa kaum perempuan. Meskipun tidak diketahui secara pasti alasannya, namun hal ini dipercaya untuk menghindari gangguan selama perjalanan mendaki ke puncak Gunung. Sebabnya, tak jarang pengunjung yang minta didampingi untuk mendaki Gunung Ranai.

Pengangkatan status Kawasan Gunung Ranai Natuna menjadisalah satu geosite dari Geopark Nasional, ditandai dengan penyerahan sertifikat dari Komite Nasional Geopark Indonesia akhir bulan November tahun 2018 lalu, hal ini menjadi sinyal lampu hijau bagi Natuna, untuk terus melanjutkan program yang didukung oleh lintas sektoral pemerintahan ini.

Pencanangan kawasan Natuna menjadi Geopark Nasional, dilakukan jauh hari sebelum menerima sertifikat komite nasional Geopark Indonesia, dengan berbagai sosialisasi, kajian-kajian, dan berbagai rekomendasi, sampai akhirnya secara administrasi dan teknis kawasan Natuna disetujui sebagai Geopark Nasional Indonesia.

Geopark merupakan sebuah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan (dengan luas tertentu) secara berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keanekaragaman alam, yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity) dan budaya (culturaldiversity). Dalam pengembangannya, konsep ini berpilar pada aspek Konservasi, Edukasi, Pemberdayaan Masyarakat, dan Penumbuhan Nilai Ekonomi Lokal melalui geowisata.

Sebabnya, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, berupaya untuk menjaga konsistensi alami, pada beberapa objek geosite, mengingat, konsep geopark adalah sebuah kawasan yang tidak boleh berubah bentuk alaminya dan melibatkan masyarakat tempatan untuk menjaga dan mengelolanya, sehingga bisa dimanfaatkan untuk menjadi objek wisata, tempat penelitian, konservasi flora dan fauna dan lain-lain yang sifatnya tidak merubah tatanan.

Dengan demikian, masyarakat tetap bisa menikmati keindahan alam yang terjaga secara jangka panjang, ditengah pesatnya pembangunan daerah. Sebab itu, kawasan yang ditetapkan sebagai geosite, dipatenkan statusnya, agar luasan wilayah tersebut tidak tergerus oleh dampak kemajuan pembangunan.

Dalam pengelolaaanya, pemerintah setempat mengajak masyarakat untuk ikut serta bertanggungjawab menjaga dan mendukung kelestarian alam yang ada di sekitar situs Geopark, agar tetap menjadi magnet pengunjung dengan daya tarik yang dimiliki, karena secara jangka panjang, titik lokasi geosite ini akan memiliki multiplayer effect bagi masyarakat sekitar, terutama terbentuknya potensi ekonomi masyarakat yang berada dilokasi wisata.

Sekitar awal bulan Juni 2021 lalu, Gunung Ranai sempat dilakukan pelarangan mendaki oleh warga sekitar yang bermukim di kaki Gunung, hal tersebut berkaitan dengan peristiwa pergeseran salah satu tumpukan batu granit raksasa di puncak gunung, batu raksasa itu bergeser  dan terjun menggelinding bebas, namun untungnya dalam peristiwa tersebut, tidak menelan korban jiwa, karena memang tidak sampai ke pemukiman warga di kaki gunung.

Pasca kejadian, pemandangan puncak Gunung, hanya tersisa dua tumpukan batu raksasa, jelas pada baian tengah gugusan mahkota batu menghilang, peristiwa ini juga tak luput dari pembicaraan masyarakat di Pulau Bunguran Besar, bahkan ada yang mengaku, sempat mendengar suara gemuruh seperti mesin helikopter dibarengi getaran berskala sedang, pada waktu dini hari sebelum batu tersebut longsor.

Sejak peristiwa tersebut berlangsung selama enam bulan, warga setempat mulai melakukan aktifitas seperti biasa, begitu juga wisata Gunung Ranai yang kembali diminati pengunjung dengan jumlah sekitar 30 orang setiap pekannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna Hardinansyah, menyebutkan bahwa, Tahun 2023 ini,  Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) RI menyiapkan anggaran Rp 10 miliar, untuk pengembangan kawasan taman bumi di Kabupaten Natuna, dana tersebut nantinya akan dialokasikan sebanyak Rp.1 miliar untuk pembangunan gapura dan beberapa fasilitas pendukung seperti, mushola serta, lahan parkir pengunjung sebagai langkah awal pengembangan kawasan Gunung Ranai.

Saat ini, dari Sembilan geosite yang ada diwilayah Kabupaten Natuna, Batu Kasah dan Pulau Akar yang ada di Desa Cemaga  Kecamatan Bunguran Selatan, sudah memiliki fasilitas dasar yang layak dan bisa dimanfaatkan bagi pengunjung untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, sementara untuk wisata Batu Kasah, pembangunan fasilitasnya bersumber dari berbagai pihak seperti, Bank Riau Kepri Syariah, SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) dan BUM Des (Badan Usaha Milik Desa) setempat.

Sebagai daerah Kepulauan yang berbatasan dengan sejumlah Negara tetangga di Asia, Kabupaten Natuna juga dicanangkan oleh Presiden RI Ir.Joko Widodo sebagai daerah terdepan NKRI dengan lima pilar pecrepatan Pembangunannya, lima pilar tersebut meliputi, sektor pertahanan dan keamanan, kelautan dan perikanan, migas, lingkungan hidup dan pariwisata.

Sebabnya, pemerintah pusat melalui lembaga kementriannya, melakukan kolaborasi untuk menyuplai anggaran kegiatan pembangunan di Natuna sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Mulai dari pembangunan jalan lingkar ibukota kabupaten di Pulau Bunguran Besar ini, yang dianggarkan secara bertahap, penyediaan embung Sebayar untuk menunjang kebutuhan jangka panjang sarana air bersih dan penambahan daya listrik untuk masyarakat.

Hardinansyah berharap, target untuk mewujudkan Geopark Unesco bisa memberikan perubahan daerah yang lebih maju, karena sektor pariwisata di Natuna merupakan destinasi wisata alami yang memang menjadikan kekayaan alam di Natuna sebagai potensi unggulan, dengan kultur, gunung, batu dan pantai serta keindahan bawah lautnya, yang tak pernah habis dimakan zaman, berbeda dengan SDA Natuna lainnya disektor kelautan perikanan dan migas (minyak dan gas bumi) jika terus menerus diproduksi akan habis.(sar)

Editor: Sarwanto

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *