Batam, Acikepri.com – Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Kepulauan Riau, menolak rencana impor plastik bekas oleh penanam modal yang ingin mengolah limbah menjadi bijih plastik karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan.
” Kami tidak sepakat dengan rencana itu. Kami bukannya menolak investasi, tapi menyelamatkan kota untuk 20 tahun ke depan. Untuk anak cucu kita, karena pembangunan yang dilakukan pemerintah sekarang ini juga untuk dinikmati di masa yang akan datang,” kata Wali Kota Batam Muhammad Rudi di Batam, Selasa, 20 November 2018.
Penanam modal berniat berinvestasi pengolahan limbah plastik di Batam, dan sudah mengurus sebagian perizinannya kepada Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas Batam, sebagai pengelola kawasan industri.
Ia menegaskan Pemkot Batam mendukung penanaman modal, namun semua aspek harus dipelajari sebelum menerima investasi.
” Intinya, kami akan terima investasi, tapi jangan lihat dari uangnya saja. Tapi efek perusahaan harus dipikirkan,” kata dia.
Berdasarkan informasi, kata wali kota, tidak semua plastik terpakai dalam industri pengolahan limbah plastik impor itu, melainkan menyisakan kotoran plastik sebanyak 30 persen. Padahal, plastik adalah bahan yang sulit terurai.
” Plastik ini diolah menjadi bijih plastik. Hasil olahan 30 persennya menjadi limbah. Kami tanya, mau dibawa ke mana limbah ini, dan itu tidak bisa dijawab mereka,” ujar Rudi.
Rudi menegaskan butuh ribuan tahun agar plastik bisa terurai bersama tanah, sehingga limbah dari hasil pengolahan plastik bekas itu akan menjadi persoalan yang baru bagi kota.
Bila pun akhirnya plastik dihancurkan menggunakan pemanasan tinggi, kata dia, maka akan mengeluarkan racun yang berbahaya bagi masyarakat sekitar. Bahkan bisa sampai menjadi kanker di tubuh masyarakat.
” Siapa yang mencium (pencemaran) ini. Tentunya masyarakat,” ucap Rudi.
Selain itu, bahan plastik bekas juga tidak bisa diidentifikasi asalnya. Apakah dari sisa makanan, atau bahkan limbah dari bahan kimia dari perlengkapan kesehatan, yang justru akan menambah masalah tambah banyak.
” Plastik bekas, dari mana asalnya enggak tahu. Kemungkinan bekas daging, bisa juga bekas bungkus bahan kesehatan, bahan kimia itu yang diolah, itu dimasukkan dari luar. Kami enggak tahu bekas apa saja,” kata dia.
Bila saja bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri, kata dia, pemerintah akan mempertimbangkannya. Namun, kalau diimpor, maka akan ditolak.
Sum: BatamXinwen
Editor: Red

Komentar