Dalam pertemuan tersebut, Apreza menjelaskan bahwa pihaknya telah menghadirkan mesin listrik dengan kapasitas 2,3 Mega Watt dari Tanjung Pinang pada malam sebelumnya.
Pihak PLN, sebagai korporasi, menjalani proses pengambilan keputusan dengan koordinasi yang baik bersama Pemerintah Kabupaten Natuna, Kepolisian Resort Natuna, dan Kejaksaan Negeri Natuna, guna memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Insiden pada awal Juli menyebabkan kerusakan pada mesin listrik, dan mesin tersebut telah direparasi selama 1 mesin sehingga mengakibatkan pemadaman listrik bergilir selama 7-10 hari,” terang Apreza.
Namun, kata Apreza, kondisi memburuk ketika dua mesin mengalami kerusakan kembali, yang menyebabkan pemadaman listrik bergilir berlangsung lebih lama.
“PLN tidak dapat membeli mesin baru sesuai dengan instruksi Presiden yang mewajibkan penggunaan sumber energi terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Listrik Tenaga Matahari,” sebut Apreza.
Apreza menyebutkan bahwa saat ini kebutuhan daya di Natuna mencapai 7,8 Mega Watt, sementara daya yang tersedia hanya sebesar 7,8 Nega Watt, mengakibatkan keterbatasan pasokan listrik. Kondisi ini memungkinkan terjadinya pemadaman listrik bergilir apabila terjadi gangguan.
Namun, Apreza memberikan kabar baik dengan mengumumkan rencana penambahan mesin listrik sebesar 4 megawatt dalam waktu dekat. Mesin ini direncanakan akan ditempatkan di Desa Harapan Jaya, Ranai.
Pihak Bupati Natuna telah memberikan dukungan dengan menyediakan lahan seluas 2 hektar untuk pembangunan jaringan listrik. Proyek ini telah direncanakan jauh ke depan untuk memastikan kebutuhan listrik di Natuna dapat terpenuhi.
Apreza menambahkan bahwa setelah pembangunan ini selesai, kemungkinan besar akan ada penambahan mesin listrik dengan kapasitas 2 megawatt setiap tahunnya, sebagai langkah untuk mengatasi masalah pasokan listrik di Natuna.(Sar)
Editor: Sarwanto

Komentar