oleh

Warga Keluhkan Ganti Rugi Jalan Lapis Hotmix di Gunung Air Makan, Kadis PUPR : Itu di Kontraktor Bukan Pemda

Natuna – Pembangunan Jalan Lapis Hotmix (AC-BC) Ruas Jalan Gunung Air Makan – Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, yang selesai pada tahun 2023, kini memunculkan sejumlah keluhan dari masyarakat.

Proyek yang menelan biaya Rp19,6 miliar ini dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dilaksanakan oleh PT. Jaya Sakti Permai, sebuah perusahaan yang beralamat di Jalan R.H. Fisabilillah, Tanjungpinang.

Jalan yang menghubungkan Kelurahan Ranai Darat dengan Desa Sepempang, melintasi sisi Gunung Ranai, dan dinilai memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Selain mempermudah akses, jalan tersebut melintasi beberapa kebun cengkeh, kelapa, dan durian milik warga Natuna.

Namun, di balik manfaatnya, beberapa warga masih belum menerima ganti rugi atas lahan dan tanaman perkebunan mereka yang terkena dampak pembangunan.

Ismail, salah seorang warga Kampung Gunung Air Makan, Kelurahan Ranai Darat, mengungkapkan keikhlasannya atas lahan yang digunakan untuk pembangunan jalan tanpa ganti rugi.

Namun, ia berharap tanaman cengkeh dan kelapa miliknya dapat diganti rugi.

“Kalau untuk tanah, saya ikhlas. Tapi kalau tanaman, kalau memang ada uang ganti rugi, ya sebaiknya dibayarkan,” ungkapnya saat ditemui di Café Bukit Bintang, Minggu, 13 Oktober 2024.

Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Dismun, warga Ranai Darat lainnya, yang mengaku belum menerima pembayaran ganti rugi atas tanaman cengkeh dan kelapanya.

Menurutnya, ada dua orang yang bertugas mendata tanaman warga, namun hanya sebagian yang sudah mendapatkan ganti rugi.

“Yang di data oleh Pak Zabarudin sudah dibayar, tapi yang di data oleh Agus sampai sekarang belum jelas,” ungkap Dismun.

Baim, warga lain yang juga terdampak, mengonfirmasi bahwa dirinya sudah menerima ganti rugi sebesar Rp11 juta untuk tanaman cengkeh dan kelapanya. “Waktu itu diganti rugi Rp200 ribu per pohon,” jelasnya.

Selain permasalahan ganti rugi, warga juga mengeluhkan kondisi jalan yang mulai rusak meskipun belum genap satu tahun sejak selesai dibangun.

Ismail, yang sehari-hari melintasi jalan tersebut untuk berjualan kelapa, merasa kecewa dengan kualitas jalan yang cepat rusak.

Meskipun sudah ada upaya perbaikan, warga menilai penanganan kerusakan tidak maksimal. “Memang sudah ada yang diperbaiki, tapi cuma ditambal-tambal saja, tidak kuat. Pasti akan rusak lagi,” pungkas Ismail.

Warga berharap agar pemerintah dan pihak terkait segera menyelesaikan permasalahan ganti rugi tanaman dan memperbaiki jalan yang rusak agar tidak semakin parah, mengingat pentingnya akses jalan tersebut bagi kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Sementara, Kepala Dinas PUPR Natuna, Agus Supardi saat dikonfimasi mengatakan, bahwa sebelum pembangunan jalan tersebut dilaksanakan pihaknya sudah mengumpulkan warga yang terdampak.

“Kemarin sudah didata dan dibayarkan oleh kontraktor, saya juga baru ada warga yang belum dibayarkan,” jelas Agus.

Jadi kata Agus, dalam pembangunan Jalan Lapis Hotmix (AC-BC) Ruas Jalan Gunung Air Makan – Sepempang ada namanya pembersihan lokasi, dan pemotongan lahan.

“Jadi untuk pemotongan lahan ada dianggarkan, kalau ada yang mengklaim ini, kita lihat dulu data, pohon apa, siapa warganya dan ukurannya berapa meter,” ungkapnya.

Soal ganti rugi, Agus menegaskan, itu ada di kontraktor bukan pemerintah daerah lagi.

“Nantinya akan kita bantu untuk mengkomunikasikan warga yang belum dibayarkan kepada kontraktor,” sebutnya. (Sarwanto)

Editor: Sar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *