Natuna – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Natuna bersama TNI-Polri dan pemadam kebakaran meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bunguran Batubi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Zulheppy, mengatakan saat ini terdapat sekitar enam hingga tujuh titik api yang masih terpantau di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, tiga hingga empat titik berada di kawasan yang dinilai rawan karena berdekatan dengan permukiman penduduk.
“Untuk saat ini ada enam sampai tujuh titik. Yang rawan di pemukiman penduduk ada sekitar tiga atau empat,” kata Zulheppy saat diwawancarai awak media, di kedai kopi Ranai Squere, Ranai, Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, penanganan karhutla di Batubi telah berlangsung kurang lebih tiga minggu. Dengan keterbatasan personel, tim gabungan memprioritaskan titik api yang paling dekat dengan rumah warga.
“Jadi saat ini kita fokus kepada titik api yang terdekat dengan pemukiman penduduk. Yang di luar itu dengan keterbatasan personel terpaksa kita abaikan dulu, karena penghidupan masyarakat itu yang paling penting,” ujarnya.
Zulheppy menyebut kondisi di lapangan membuat sejumlah personel gabungan kewalahan. Banyaknya titik panas yang harus ditangani menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemadaman.
Bahkan, pihak Kecamatan Bunguran Batubi telah meminta tambahan dukungan personel kepada BPBD Natuna. Permintaan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan mengerahkan personel ke lokasi yang berada dekat dengan permukiman.
“Barusan juga dari kecamatan, Pak Camat telepon saya untuk minta dukungan personel. Alhamdulillah, personel kita sudah bergerak ke Bunguran Batubi,” katanya.
Dalam penanganan tersebut, BPBD Natuna menurunkan sembilan personel. Sementara dari jajaran Polres Natuna melalui personel Polsek dan Bhabinkamtibmas dikerahkan sekitar 30 personel.
Selain itu, sekitar 10 personel pemadam kebakaran turut diterjunkan untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada titik-titik yang berada di sekitar permukiman warga.
Namun, Zulheppy mengakui sarana dan prasarana yang dimiliki untuk penanganan karhutla masih terbatas.
“Kalau untuk sarpras memang saat ini masih sangat minim. Tapi dengan semangat personel kita, alhamdulillah masih bisa kita tangani,” ucapnya.
Ia menegaskan evaluasi penanganan kekeringan dan karhutla terus dilakukan melalui koordinasi lintas instansi. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan titik api yang mengancam permukiman dapat segera dikendalikan sekaligus mengantisipasi meluasnya kebakaran. (Sar)
Editor: Juliadi

Komentar