oleh

Sri Mulyani Sebut Defisit APBN Capai Rp179,1 Triliun pada Kuartal II 2020

-Nasional-787 views

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp179,1 triliun atau 1,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per 31 Mei 2020.

“Tahun 2020 adalah tahun yang sangat esktraordinary perubahannya. Tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga kesehatan yang menjadi trigger utama dari perkembangan ekonomi nasional dan global,” kata Sri melalui konferensi pers, Selasa, 16 Juni 2020.

Untuk diketahui, realisasi defisit tersebut merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada periode yang sama. Pada 31 Mei 2018 defisit tercatat Rp93,5 triliun atau 0,63 persen dari PDB. Sedangkan pada 31 Mei 2019, defisit melebar menjadi Rp125,8 triliun atau 0,79 persen dari PDB.

Sri menjelaskan, kenaikan defisit itu lebih tinggi dibandingkan tahun lalu terjadi karena semua penerimaan negara mengalami kontraksi.

“Keseimbangan primer minus Rp33,9 triliun hingga 31 Mei 2020 atau bertolak belakang dengan posisi tahun lalu yang masih positif Rp1,3 triliun. Sementara, pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp356,1 triliun. Angkanya melonjak lebih dari dua kali lipat periode yang sama tahun lalu Rp159,9 triliun,” jelas Sri Mulyani dilansir dari infoanggaran.com, Kamis, 25 Juni 2020.

Prospek Ekonomi

Kendati demikian, kata Sri, kalau pandemi hanya satu gelombang, prospeknya akan jauh lebih baik, kontraksinya hanya 6 persen tapi sudah merupakan kontraksi yang dalam.

“Kalau pertumbuhan ekonomi dunia di angka 3 persen, yang turun ke minus 6 persen, itu artinya total pertumbuhan turun sekitar 9 persen,” kata Sri.

Selanjutnya Sri menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 berfokus untuk menjaga pertumbuhan tetap positif dan hal itu sangat menantang, karena hampir semua memperkirakan di kuartal II akan negatif.

Berikut adalah tabel proyeksi ekonomi nasional tahun 2020:

Sementara untuk kuartal III akan sedikit membaik jika tidak ada pandemi Covid gelombang kedua.  Pada kuartal IV, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan kembali positif. Perekonomian Indonesia akan terlihat apakah di kuartal III memang akan sedikit membaik.

“Hingga saat ini, kita masih menggunakan -0,4 hingga 2,3 meskipun point estimasi kita sudah mendekati 0 hingga 1 persen,” jelas Sri.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Sri menjelaskan, seluruh APBN difokuskan bagaimana untuk mengurangi tekanan yang begitu berat di kuartal II ini, sehingga pada kuartal III akan mulai pemulihan atau penurunan tekanan. Dengan demikian, UMKM, masyarakat dan daerah mulai bisa memulihkan ekonominya.

Total anggaran yang dialihkan untuk penanganan Covid-19 dalam berbagai aspek mencapai Rp695,2 triliun. Rinciannya, dalam tabel berikut:

(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *