Karimun – Petani di Kabupaten Karimun tepatnya di Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Sulisgianto mengeluhkan adanya industri pertambangan mineral dan batubara PT. Bukit Alam Persada (BAP) yang beraktivitas di daerahnya.
Pasalnya, setiap Sulisgianto bertani dirinya terus merugi disebabkan aktivitas dumping oleh pihak perusahaan yang menyebabkan tercemarnya air ditanah pertaniannya.
“Sudah lama bertani, setahun terakhir terus merugi dan terus gagal panen,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu, 4 Maret 2023.
Ia menceritakan, bahwa setiap sekali bertani cabai, dirinya menanam sekitar 12 ribu batang cabai. “Tiga kali gagal, satu batang menghabiskan biaya Rp5 ribu, jika ditotal saya sudah rugi Rp180 juta, belum lagi kerugian gagal panen buah semangka,” keluhnya.

Sulisgianto mengatakan, bahwa dulunya kolam air bersih. Sejak adanya aktivitas dumping PT. BAP air dan tanah ikut tercemar terutama saat hujan. “Airnya turun dari arah dumping area mengalir ke lahan pertanian kita dan tanaman pada mati dan jika ada yang masih hidup sudah tidak sempurna lagi,” sebutnya.
Sulisgianto menuturkan, bahwa dirinya sudah pernah menyampaikan kerugian yang ia alami, namun sampai saat ini belum ada ditindaklanjuti.
Sementara itu, saat dikonfirmasi acikepri.com Kepala Tehnik PT. BAP, Karta dan juga Direktur, Jonker melalui seluler belum berhasil dikonfirmasi.
Atas peristiwa ini, Inspektur Tambang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Sastro Purba ketika dikonfirmasi perihal permasalahan ini, pihaknya langsung menghubungi pihak perusahaan.
Ia mengatakan, pihak PT. BAP berjanji akan menindaklanjuti keluhan petani (Sulisgianto).
“Saya sudah bicarakan dengan pak Direktur melalui telpon, beliau lagi diluar kota saat ini.
janji dari Direktur PT. BAP paling lama satu minggu dari hari ini pihak perusahaan akan menindaklanjuti keluhan masyarakat ini. Nanti dicarikan win-win solusinya dengan masyarakat yang terkena dampak. Kalau dalam seminggu ini tidak ada tanggapan dari perusahaan boleh dihubungi kami kembali pak ya,” jelasnya.
Diakhir pertemuan dengan petani, Sulisgianto menyampaikan bahwa dirinya baru mendapat informasi dari RW, Topa agar pada Minggu, 5 Maret 2023 untuk berada di kebun karena pihak PT dari jakarta mau turun kelokasi kebunnya.
“Saya baru dihubungi RW Topa, dia minta saya standby di kebun besok hari Minggu karena pihak PT dari Jakarta mau turun ke lokasi melihat kebun dan tanaman saya,” tutup Sulisgianto.(hariono)

Komentar