oleh

Badai Berkecai

-Home-1,281 views

PULAU SETANAU

Di ujung pasir aku menghitung
Butir kenangan emas yang telah
Terhapus pada jalan-jalan kaca
tembok ber-hasta-hasta
bangunan megah perkasa
ku ingat belaian angin tersentuh hingga ke sukma
Debur ombak menghempas sebab takdirnya
Riuh batu karang membuang luka sengsara
Kicauan camar laut menggaungkan dendam yang berlumut
Cicit anak punai memaut lembut mengalun sampai kelaut

Aku ingin menenun cinta di sepanjang pantai
Yang kini sempak di makan kangak
Yang menjadi lebui di cerna ugui

Sabut hanyut tersapu badai gerbang uatara
Tumbung terdampar disisinya digulung gelombang natuna
Aku ingin bertandang pada pohon kelapa yang sebentar lagi tutup usia
Berteduh di bawahnya
Memandang lumba-lumba kejar- mengejar didadanya
Pesona pelangi bermandikan disemaknya
Layangkan aku sekedip mata
Maka aku akan tinggal dihatinya

TERASING

Sejak perjalanan panjangku, tersadai dagu gemulai di sisi jendela
Jelaga berhamburan menaruh rusuh pada wajah pemburu iba
Dengan kakinya terkulai membawa sebongkah amunisi pengharapan
Orang-orang berkaca mata meludah, dasar tenggorokan kering
Tangan geligi menggendong buah hati nak menggapai sebutir coklat
Disana sini beralaskan ban bekas tuk berjalan
Separuh tak memperdulikannya
Separuh mengasingkannya
Kenapa ia selalu sendiri?
Benarkah sepotong roti telah berjamur di perut bumi ?

CATATAN HITAM TELUK BELITUNG

Kenangan di simpang hujan
Menyusun riwayat
Perjalanan kaharibaan
Tertinggal barang di pengisian bensin.
Menghitung jumlah perkebunan sawit,
Mengukur panjang pipa darah
Banyak lagi yang akan tinggal
Pada lebaran ketupat satu dan dua tahun
Dengan laju kapal 20 km/jam.
Melintasi keruh,
Menebak ikan karang di dasarnya
Menjejaki jalan kampung yang menangis
Sebab umur telah retak di makan dana
Masih banyak lagi
Hingga batu domino perempuan malam
Tersentak aku, Arah Pulang bertanya
Bagaimana kau melawan arus kehidupan
Bila dayung kejujuran dipatahkan,
Lalu kau sendiri yang melemparkannya Untuk sungai pendusta?

DIMENSI KERUH

aku dikepung bahasa asing sedinding-dinding
mereka melekat dengan melumat bibir hitamku
begitu pentingan senar kesedihan
berlalu meraup selumbar kemalangan
dari praktek-praktek kedunguan
yah, semakin bulan di rasa memuncak
semacam meninggi air laut beriak-riak

aku menyambangi sepiring lontong malam
bergelut dengan keluh kesah mengadu
menyiar kabar di negeri pilu
berkumbuk gelap
disingkap pengap
yap, berjulalai-julai lidah pembantai
mencambuk kutuk
mendarahi lekuk-lekuk tubuh ibu sang penakluk

aku sudahi bersama segelas sebening kuku
lalu memutar kepala
menutup telinga
mengelus dada
dan bertanya
kenapa Dia?

Sum : #Karya_MoSa
Editor : Red

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *